USD/JPY Turun di Bawah 136,00, Terendah Baru Mingguan di Balik Kembalinya Permintaah Safe Haven, Pelemahan USD

  • USD/JPY melayang lebih rendah untuk hari kedua berturut-turut dan mundur lebih jauh dari puncak dua bulan.
  • Kekhawatiran krisis perbankan AS menguntungkan JPY dan membebani pasangan mata uang ini di tengah beberapa pelemahan USD.
  • Divergensi kebijakan The Fed-BoJ dapat membatasi penurunan menjelang data AS dan keputusan FOMC.

Pasangan USD/JPY melanjutkan penurunan tajam hari sebelumnya dari wilayah 137,75-137,80, atau tertinggi hampir dua bulan dan tetap berada di bawah tekanan jual yang berat untuk hari kedua berturut-turut pada hari Rabu. Penurunan tetap tidak terganggu sepanjang awal sesi Eropa dan menyeret harga spot di bawah 136,00, atau terendah baru mingguan dalam satu jam terakhir.

Kekhawatiran bahwa beberapa pemberi pinjaman regional AS lainnya menghadapi masalah solvabilitas memicu kekhawatiran terhadap krisis perbankan besar-besaran dan mendorong permintaan aset-aset safe-haven tradisional, termasuk Yen Jepang (JPY), Hal ini, pada gilirannya, menyeret pasangan USD/JPY lebih rendah di tengah penurunan Dolar AS (USD) yang sedang berlangsung dari puncak tiga minggu yang diraih pada hari Selasa. Rilis Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS semalam mengindikasikan bahwa pasar kerja AS yang sangat ketat sedang mengendur. Selain itu, kekhawatiran atas plafon utang AS dan pembaruan kekhawatiran terhadap krisis perbankan terus membebani Greenback.

Meskipun demikian, divergensi besar dalam sikap kebijakan moneter yang diadopsi oleh Bank of Japan (BoJ) dan Federal Reserve (The Fed) dapat membantu membatasi penurunan pasangan USD/JPY, setidaknya untuk saat ini. Patut diingat bahwa Gubernur BoJ Kazuo Ueda mengatakan pekan lalu bahwa risiko dari melakukan pengetatan yang terlalu tergesa-gesa lebih besar daripada kebijakan moneter yang berada di belakang tren dan menambahkan bahwa akan tepat untuk melanjutkan pelonggaran moneter untuk mencapai target inflasi 2%. Sebaliknya, bank sentral AS secara luas diprakirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bp lagi pada akhir pertemuan kebijakan moneter dua harinya Rabu ini.

Namun, pelaku pasar tetap terpecah atas kemungkinan bahwa The Fed akan mengumumkan jeda dalam siklus kenaikan suku bunga karena inflasi masih cenderung jauh di atas kisaran target bank sentral. Meskipun demikian, risiko krisis perbankan dan kondisi ekonomi yang memburuk mungkin memaksa bank sentral AS untuk melunakkan nada hawkish. Ketidakpastian, sementara itu, mungkin menahan pedagang dari menempatkan taruhan agresif di sekitar pasangan USD/JPY menjelang keputusan FOMC yang sangat dinanti, yang akan diumumkan nanti selama sesi AS. Hal ini, pada gilirannya, membenarkan kehati-hatian sebelum memposisikan diri untuk koreksi ke bawah yang signifikan.

Menuju acara utama, pedagang pada hari Rabu mungkin mengambil petunjuk dari kalencer ekonomi AS, menampilkan rilis laporan ADP tentang tenaga kerja sektor swasta dan IMP Jasa ISM. Data makro utama mungkin memengaruhi dinamika harga USD, yang, bersama dengan sentimen risiko yang lebih luas, akan memberikan beberapa dorongan bagi pasangan USD/JPY. Meskipun demikian, reaksi langsung pasar kemungkinan besar akan tetap terbatas.

 

Indeks Harga Konsumen (Bln/Bln) Turki April Naik Ke 2.39% Dari Sebelumnya 2.29%

Indeks Harga Konsumen (Bln/Bln) Turki April Naik Ke 2.39% Dari Sebelumnya 2.29%
Mehr darüber lesen Previous

Risiko dalam EUR/USD Mengarah Ke Sisi Negatifnya – Commerzbank

Peristiwa utama hari ini adalah rapat FOMC. Para ekonom di Commerzbank menganalisa bagaimana Dolar AS dan pasangan EUR/USD dapat bereaksi terhadap pen
Mehr darüber lesen Next