Pasar Saham Asia: Turun di Tengah Kekhawatiran Risiko Likuidasi Evergrande, Hang Seng Memimpin Penurunan
- Ekuitas Asia diperdagangkan lebih rendah di tengah sentimen yang berhati-hati.
- Kekhawatiran yang masih ada atas krisis pasar properti di Tiongkok melemahkan pasar saham regional.
- Sikap dovish BoJ mendorong ekuitas Jepang.
- Para investor menanti Indeks Harga Konsumen (IHK) Jepang dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pada hari Jumat.
Sebagian besar pasar saham Asia diperdagangkan di wilayah negatif pada hari Senin di tengah sentimen berhati-hati. Para investor mencerna hasil keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) minggu lalu sementara kekhawatiran baru atas krisis properti Tiongkok membebani sentimen risiko.
Pada saat berita ini ditulis, Shanghai turun 0,39% menjadi 3.120, Indeks Komponen Shenzhen turun 0,50% menjadi 10.127, Hang Sang di Hong Kong turun 1,23% menjadi 17.835, Kospi di Korea Selatan turun 0,45%, dan Nikkei di Jepang naik 0,74%.
Evergrande, pengembang properti dengan hutang terbesar di dunia dan yang menghadapi krisis properti di Tiongkok, mengumumkan pada hari Ahad bahwa mereka tidak dapat menerbitkan hutang baru karena investigasi yang sedang berlangsung terhadap anak perusahaan domestik utamanya, Hengda Real Estate Group Co Ltd. Selain itu, Hengda mengungkapkan bulan lalu bahwa mereka sedang diselidiki oleh regulator sekuritas Tiongkok atas dugaan pelanggaran yang melibatkan pengungkapan informasi. Menanggapi berita tersebut, saham Evergrande anjlok sekitar 24%, sementara Hang Seng Hong Kong memimpin kerugian dengan penurunan 1,23% pada waktu berita ini diturunkan.
Di Jepang, para anggota dewan Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan target suku bunga jangka pendek -0,1% dan target imbal hasil obligasi 10 tahun sekitar 0% pada hari Jumat, seperti yang diharapkan secara luas oleh pasar. Para pembuat kebijakan Jepang menegaskan kembali sikap kebijakan moneternya yang mudah sampai mereka melihat inflasi Jepang secara stabil mempertahankan 2%. Sikap dovish dari BoJ mengangkat saham Jepang pada hari Senin.
Selanjutnya, para investor menanti Indeks Harga Konsumen (IHK) Tokyo untuk bulan September, Produksi Industri dan Penjualan Ritel yang akan dirilis pada hari Jumat. Perhatian akan beralih ke Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Inti AS, ukuran inflasi konsumen yang lebih disukai oleh Fed. Angka tahunan diharapkan turun dari 4,2% menjadi 3,9%.