Rupiah Menguat Tipis, Pasar Waspadai Data Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

  • Rupiah menguat 0,11% ke Rp16.288 per dolar pada Selasa pagi menjelang sesi Eropa.
  • Pasar global fokus pada rilis inflasi AS Juli dan sinyal pemangkasan suku bunga The Fed.
  • Perpanjangan jeda tarif AS-Tiongkok, kesepakatan dagang Indonesia-Peru, dan data domestik terbaru ikut membentuk sentimen.

Nilai tukar rupiah Indonesia (IDR) bergerak positif pada Selasa menjelang pembukaan sesi Eropa, menguat tipis 0,11% atau sekitar 18 poin ke Rp16.288 per dolar AS (USD). Penguatan ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung konstruktif terhadap aset berisiko Asia, meskipun dinamika global masih dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan terbaru di sektor perdagangan global. Hari ini, pasangan mata uang USD/IDR diproyeksikan bergerak dalam rentang 16.250-16.350.

Di pasar mata uang global, Indeks Dolar AS (DXY) bertahan stabil di kisaran 98,50 setelah beberapa sesi terakhir bergerak dengan volatilitas moderat. Sejak penurunan tajam awal Agustus yang menyeret indeks di bawah level 99, DXY sempat menguji support di 98,17 sebelum kembali menguat tipis. Pergerakan ini memperlihatkan pasar menahan langkah menjelang IHK AS.

Trump Perpanjang Jeda Tarif AS-Tiongkok 90 Hari, Indonesia-Peru Teken Kesepakatan Dagang Baru

Dari sisi geopolitik dan perdagangan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan lewat media sosial bahwa ia menandatangani perpanjangan penangguhan tarif terhadap Tiongkok selama 90 hari, memperpanjang batas waktu hingga pertengahan November. Langkah yang diumumkan hampir bersamaan oleh Beijing melalui Xinhua ini mempertahankan tarif utama – 30% untuk impor dari Tiongkok dan 10% untuk produk AS – sekaligus menghalau risiko bea masuk kembali ke level di atas 100%.

Dari kawasan domestik, Indonesia dan Peru pada Senin menandatangani perjanjian perdagangan bebas di Jakarta untuk memperkuat hubungan dagang dan investasi. Berdasarkan data 2024, ekspor Indonesia ke Peru mencapai US$331,2 juta dan impor dari Peru senilai US$149,6 juta. Menurut Reuters, produk ekspor utama Indonesia meliputi mobil dan suku cadangnya, biodiesel, dan alas kaki, sementara impor dari Peru didominasi biji kakao dan anggur. Presiden Peru Dina Boluarte menegaskan kesepakatan ini akan memperluas akses ekspor buah segar, termasuk blueberry, ke pasar Indonesia.

Pertumbuhan Ekonomi RI di Atas Ekspektasi, Ekonom Soroti Kesenjangan dengan Data Lapangan

Namun, data ekonomi terbaru memberi sinyal beragam. Penjualan ritel Juni 2025 tumbuh 1,3% YoY, melambat dari 1,9% di bulan sebelumnya, sementara penjualan mobil Juli masih terkontraksi -18,4% YoY meski membaik dibandingkan -22,6% pada Juni. Sektor otomotif yang lemah ini mencerminkan daya beli barang tahan lama yang belum pulih di tengah ketidakpastian.

BPS pekan lalu melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II 2025 sebesar 5,12% YoY, di atas proyeksi 4,8% YoY. Meski demikian, Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, kepada Kompas menilai angka ini perlu diuji melalui diskusi transparan karena dinilai berlawanan dengan sejumlah indikator lapangan – seperti penurunan penerimaan PPN dan PPnBM sebesar 19,7% pada semester I, PMI di bawah 50 selama empat bulan, serta pelemahan penjualan mobil dan rumah. Jika data tersebut tidak mencerminkan realitas, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran dan dapat membatasi ruang penguatan rupiah.

Inflasi AS Juli Berpotensi Geser Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Selanjutnya para pedagang akan mencermati inflasi AS Juli 2025 yang diprakirakan naik moderat dengan IHK tahunan 2,8% dari 2,7% pada Juni dan IHK inti 3,0% dari 2,9%. Secara bulanan, harga konsumen diprakirakan tumbuh 0,2%, sementara IHK inti naik 0,3%. Data ini akan menjadi acuan utama pasar untuk menakar arah kebijakan suku bunga The Fed. Pada Juni, IHK inti naik 0,2%, mencerminkan perlambatan biaya jasa namun percepatan tipis inflasi barang impor.

Jika IHK inti Juli mencapai 0,3%, ekspektasi tiga kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini berpotensi memudar. Skenario tersebut bisa memicu rally dolar AS di pasar global, menekan bursa saham dunia, harga emas, serta memberikan tekanan pada rupiah. Sebaliknya, jika inflasi lebih jinak, keyakinan terhadap pemangkasan suku bunga di setiap pertemuan The Fed hingga akhir tahun akan menguat, melemahkan dolar global dan memberi ruang apresiasi bagi rupiah.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Konsumen non Pangan & Energi (Thn/Thn)

Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Agu 12, 2025 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 3%

Sebelumnya: 2.9%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Federal Reserve AS memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja. Berdasarkan mandat tersebut, inflasi harus berada pada kisaran 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah permasalahan dan kemacetan rantai pasokan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.

Tingkat Jumlah Pemohon Klaim Inggris Juli Merosot ke 4.4% dari Sebelumnya 4.5%

Tingkat Jumlah Pemohon Klaim Inggris Juli Merosot ke 4.4% dari Sebelumnya 4.5%
Mehr darüber lesen Previous

EUR/GBP melemah di Bawah 0,8650 setelah Data Ketenagakerjaan Inggris

Pasangan mata uang EUR/GBP kehilangan traksi ke sekitar 0,8640 selama awal sesi Eropa pada hari Selasa. Pound Sterling (GBP) menguat terhadap Euro (EUR) setelah data ketenagakerjaan Inggris. Para pedagang akan mengawasi Survei ZEW dari Zona Euro dan Jerman yang akan dirilis pada hari Selasa.
Mehr darüber lesen Next