Rupiah Awali Pekan dengan Penguatan, Pasar Menakar Data Domestik dan Inflasi AS

  • Rupiah kembali ke kisaran Rp16.400-16.350 per USD usai libur panjang, seiring pelemahan DXY pasca-NFP.
  • Cadangan Devisa Indonesia Agustus turun ke USD150,7 miliar, tetap solid setara 6,3 bulan impor.
  • BI dan Kemenkeu perkuat koordinasi fiskal-moneter, sementara pasar global menanti IHP dan IHK AS.

Rupiah Indonesia (IDR) mengawali pekan dengan nada lebih stabil setelah libur panjang. Tiga candle terakhir pada grafik USD/IDR memperlihatkan tren menurun, menandakan dorongan penguatan bertahap. Setelah sempat menguji area Rp16.500 per dolar AS (USD), Rupiah kembali merapat ke kisaran Rp16.400-16.350, dengan akumulasi penjualan dolar yang mendorong penutupan di Rp16.450-an per USD pada Kamis sebelumnya. Pergerakan ini memberi ruang bagi pasar untuk menakar arah berikutnya dengan lebih hati-hati. Pada saat berita ini ditulis, spot Rupiah tengah bergerak di kisaran 16.360, menguat 18 poin atau 0,11%.

Dari global, Indeks Dolar AS (DXY) masih bertahan tipis di sekitar 97,79 setelah guncangan dari laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus. Penambahan pekerjaan hanya 22 ribu, jauh di bawah ekspektasi 75 ribu maupun realisasi sebelumnya 79 ribu. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3% namun lebih tinggi dari bulan lalu, sementara pengangguran luas (U6) naik ke 8,1%. Di sisi lain, rata-rata upah tumbuh 0,3% bulanan dan 3,7% tahunan, selaras konsensus. Kombinasi ini menandakan pelemahan pasar tenaga kerja meski tekanan upah masih membatasi ruang pelonggaran The Fed.

Ekspektasi pasar kini bergeser, dengan peluang pemangkasan suku bunga besar pada September yang semakin kecil, namun ruang untuk penurunan bertahap hingga tiga kali sebelum akhir tahun masih terbuka.

Cadangan Devisa Tetap Kokoh, Sinergi BI-Kemenkeu Perkuat Ruang Fiskal

Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa turun sekitar USD1,3 miliar menjadi USD150,7 miliar pada Agustus, dari bulan sebelumnya USD152 miliar. Pelemahan ini utamanya berasal dari pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi stabilisasi Rupiah. Kendati menurun, cadangan devisa masih kokoh, setara membiayai 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor plus pembayaran utang – jauh melampaui standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai level ini tetap memadai untuk menopang ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi.

Sejalan dengan itu, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan melalui kesepakatan pembagian beban bunga atas program Perumahan Rakyat dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pemerintah menegaskan disiplin APBN dengan defisit rendah dan belanja produktif, sementara BI menjaga bauran kebijakan akomodatif dengan pemangkasan BI-Rate 125 bp sejak 2024, intervensi valas, pembelian SBN senilai Rp200 triliun, serta insentif likuiditas Rp384 triliun hingga Agustus 2025. Skema tambahan bunga pada rekening pemerintah di BI dijalankan transparan dan akuntabel, memastikan sinergi tetap sejalan dengan stabilitas moneter sekaligus membuka ruang fiskal untuk mendukung pertumbuhan inklusif.

Rilis Data Domestik dan Global, Investor Menakar Arah Pasar di Sisa Kuartal 3

Ke depan, perhatian pasar akan terbagi pada data domestik dan global. Dari dalam negeri, Selasa (9/9) akan dirilis penjualan kendaraan bermotor Agustus, setelah bulan sebelumnya tertekan dengan Penjualan Motor -2,0% dan Penjualan Mobil -18,4% YoY. Rabu (10/9) menyusul Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus, yang sebelumnya berada di level optimis 118,1, lalu Kamis (11/9) Penjualan Ritel Juli setelah tumbuh tipis 1,3% YoY. Dari Amerika Serikat, pekan ini akan dirilis IHP, IHK, Klaim Tunjangan Pengangguran, hingga survei University of Michigan terkait ekspektasi inflasi dan sentimen konsumen. Rangkaian rilis ini akan menjadi sorotan utama pasar sebagai dasar bagi investor dalam menata ulang strategi di sisa kuartal ketiga, sekaligus pijakan awal menuju kuartal keempat.

Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS

Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.

Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.


EUR/GBP stabil di dekat 0,8700 akibat ketidakpastian politik di Prancis

EUR/GBP bertahan selama dua sesi berturut-turut, diperdagangkan di sekitar 0,8680 selama jam perdagangan sesi Asia pada hari Senin. Pasangan mata uang ini mempertahankan posisinya seiring Euro (EUR) stabil, didorong oleh kehati-hatian pasar di tengah ketidakpastian politik di Prancis.
Mehr darüber lesen Previous

Prakiraan GBP/USD: Prospek Bullish Tetap Berlangsung Dekat 1,3500

Pasangan mata uang GBP/USD melemah ke sekitar 1,3500 selama awal sesi Eropa pada hari Senin, didukung oleh pemulihan moderat Dolar AS (USD)
Mehr darüber lesen Next