Rupiah Melemah Lebih Jauh, Pasar Waspadai Kebijakan Domestik, PMI AS, dan Powell
- USD/IDR naik 98,6 poin, menyeret rupiah ke Rp16.665, level tertinggi sejak Mei 2025.
- Penurunan TBP LPS, realisasi APBN, dan revisi IMF ikut mewarnai sentimen domestik.
- Nada dovish The Fed belum cukup menahan tekanan eksternal terhadap rupiah; pasar menanti rilis PMI AS dan Powell malam ini.
Menjelang sesi Eropa pada Selasa siang, nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS, dengan USD/IDR menguat 98,6 poin atau 0,60% ke level Rp16.665. Rupiah dibuka di Rp16.567 dan bergerak dalam rentang harian Rp16.567-Rp16.665, mencatat posisi tertingginya sejak Mei 2025, saat kurs sempat menyentuh kisaran Rp16.670-Rp16.680. Sebelumnya, intervensi Bank Indonesia sempat mendorong kurs turun ke bawah Rp16.600 pada perdagangan Senin, namun sentimen pasar tetap cenderung berhati-hati.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed menyusul pelemahan pasar tenaga kerja AS. Meski indeks dolar AS (DXY) melemah secara struktural, tekanan terhadap rupiah lebih bersumber dari dinamika domestik dan selisih imbal hasil yang belum kompetitif.
Sentimen Domestik: TBP LPS Turun, Fiskal Diuji
Di level domestik, pasar turut merespons keputusan LPS yang kembali menurunkan tingkat bunga penjaminan (TBP) mulai 1 Oktober 2025. Penyesuaian ini menurunkan TBP simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,5%, valas ke 2%, dan BPR ke 6%. Kebijakan tersebut menandai pemangkasan ketiga sepanjang 2025 dan diposisikan sebagai langkah preventif untuk memperkuat transmisi pelonggaran suku bunga. Plt Ketua Dewan Komisioner LPS, Didik Madiyono, menekankan bahwa likuiditas perbankan yang menguat memberi ruang bagi penurunan suku bunga penjaminan tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Fiskal tetap menjadi perhatian utama dengan kinerja APBN hingga Agustus 2025 menunjukkan penerimaan Rp1.638,7 triliun atau 57,2% dari outlook, meski terkoreksi 7,8% secara tahunan akibat pelemahan pajak dan PNBP. Di sisi belanja, realisasi tercatat Rp1.960,3 triliun atau 55,6% dari pagu, sehingga defisit mencapai Rp321,6 triliun atau 1,35% PDB. Untuk menopang likuiditas, pemerintah mengalirkan Rp200 triliun dana dari BI ke perbankan sebagai dorongan kredit ke sektor riil.
M2 dan RAPBN 2026 Perkuat Fondasi Makro
Dari sisi makro struktural, likuiditas domestik menguat. Pertumbuhan uang beredar (M2) pada Agustus tercatat 7,6% YoY, naik dari 6,6% (direvisi dari 6,5%) di bulan sebelumnya, didorong oleh kenaikan aktiva luar negeri bersih dan penyaluran kredit.
Sementara itu, DPR juga resmi mengesahkan RAPBN 2026 dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,4%, inflasi 2,5%, dan nilai tukar Rp16.500/USD. Belanja negara dirancang sebesar Rp3.842,7 triliun dengan defisit sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.
Nada Dovish The Fed Campur Aduk
Di sisi eksternal, pasar masih mencerna pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bp ke kisaran 4-4,25% yang diklaim sebagai langkah manajemen risiko. Dot plot terbaru memproyeksikan tambahan pemangkasan 50 bp di 2025 dan 25 bp di masing-masing 2026 dan 2027. Namun, nada pernyataan pejabat The Fed terpecah: Musalem dan Hammack memperingatkan risiko inflasi dan ketatnya kebijakan terlalu lama, sementara Miran mendorong pemangkasan agresif demi mendukung tenaga kerja.
CEPA Indonesia-Uni Eropa: Optimisme Perdagangan Jangka Menengah
Kesepakatan CEPA Indonesia–Uni Eropa yang diumumkan di Bali juga menjadi sorotan. Perjanjian ini akan menghapus tarif untuk 80% produk Indonesia dan diproyeksikan menggandakan nilai perdagangan bilateral dalam lima tahun. Namun, dampaknya terhadap kurs masih terbatas karena implementasi baru dimulai 2027.
Data PMI AS & Powell Jadi Penentu Arah Jangka Pendek
Dengan beragam katalis domestik dan global yang bersilangan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data AS malam ini, termasuk PMI S&P Global September versi awal untuk sektor manufaktur, jasa, dan gabungan. Data ini berpotensi mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed, terlebih menjelang pidato penting dari Ketua The Fed Jerome Powell pada pukul 16:35 GMT (23:35 WIB). pergerakan rupiah ke depan akan sangat ditentukan oleh efektivitas bauran kebijakan, respons pasar terhadap arah The Fed selanjutnya, serta keberhasilan pemerintah menjaga kesinambungan fiskal dan daya saing likuiditas perbankan.
Indikator Ekonomi
PMI Manufaktur S&P Global
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global, yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Data tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif senior di perusahaan swasta dari sektor manufaktur. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya dan dapat mengantisipasi perubahan tren dalam rangkaian data resmi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), produksi industri, lapangan kerja, dan inflasi. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Sementara itu, angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas di sektor manufaktur secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Sep 23, 2025 13.45 (Pendahuluan)
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 52
Sebelumnya: 53
Sumber: S&P Global