Rupiah Melemah Tipis jelang Akhir Pekan, Dolar Bertahan di Puncak Tiga Bulan

  • Rupiah dibuka di Rp16.611 per dolar AS dan bergerak di kisaran Rp16.590-Rp16.636.
  • Dolar AS menguat tipis, dengan DXY stabil di 99,51 dan ekspektasi pemotongan suku bunga turun menjadi 70%.
  • The Fed memangkas suku bunga 25 bp ke 3,75%-4,00% dalam keputusan yang tidak bulat.

Memasuki hari terakhir pekan sekaligus penutupan bulan Oktober, nilai tukar rupiah dibuka di level Rp16.611 per dolar AS. Hingga siang hari menjelang sesi Eropa, pasangan USD/IDR bergerak dalam rentang Rp16.590-Rp16.636, dengan posisi terakhir di Rp16.626,9, naik 15,4 poin (+0,09%) bagi dolar AS.

Secara teknis, pergerakan rupiah menunjukkan fase konsolidasi tipis setelah gagal menembus area support Rp16.580, yang kini menjadi batas bawah jangka pendek. Di sisi atas, area Rp16.650-16.670 terlihat sebagai zona resistensi dalam perdagangan harian, di mana tekanan jual terhadap dolar mulai terbentuk pada dua hari terakhir.

Dalam jangka menengah, rupiah masih bergerak di kisaran Rp16.250-16.750, dengan kecenderungan stabil di atas Moving Average 50 harian (MA50) pada grafik harian yang berada di sekitar Rp16.500. Pola ini menandakan momentum penguatan rupiah masih terbatas, selama dolar global tetap bertahan di kisaran tinggi.

Dolar Menguat Tipis, Didukung Nada Hawkish Powell

Dolar AS menguat tipis setelah konferensi pers FOMC, di mana Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember bukanlah kepastian. Ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga turun dari 100% menjadi sekitar 70%, menurut Chris Turner, analis valas ING.

Turner menilai komunikasi The Fed “menyulitkan penjualan dolar”, dengan kurva imbal hasil AS menguat terhadap yen dan franc Swiss. Ia memprakirakan indeks Dolar AS (DXY) akan bertahan di kisaran 98-100, sementara dolar cenderung tetap mendapat dukungan selama data tenaga kerja AS belum melemah.

Data teknis TradingView menunjukkan DXY stabil di 99,51, mendekati level tertinggi sejak awal Agustus, dengan kisaran harian 99,41-99,53.

Perpecahan di Tubuh The Fed Tahan Perubahan Arah Dolar

Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, namun keputusan tersebut tidak bulat. Stephen Miran mendorong pemangkasan yang lebih agresif sebesar 50 bp, sementara Jeffrey Schmid memilih mempertahankan suku bunga tetap. Perbedaan pandangan ini menunjukkan ketidaksepahaman di antara pengambil kebijakan tentang kecepatan pelonggaran, yang sekaligus menjadi faktor penahan perubahan arah dolar dalam waktu dekat.

Kesepakatan Dagang Trump-Xi Redakan Ketegangan, tapi Rupiah Masih Tertekan Dominasi Dolar

Dari sisi geopolitik, pertemuan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping menghasilkan kesepakatan parsial yang menurunkan ketegangan dagang. AS sepakat mengurangi tarif terhadap sejumlah produk Tiongkok, sementara Beijing melanjutkan pembelian kedelai AS dan menjaga pasokan tanah jarang tetap stabil. Sentimen positif ini mendorong risk appetite global, tetapi belum cukup kuat untuk menahan pelemahan rupiah yang masih tertekan oleh dominasi dolar di pasar global.

Selain itu, penutupan pemerintah AS yang telah memasuki minggu kelima menambah ketidakpastian terhadap arah ekonomi global. Bagi Indonesia, kondisi ini membuat pelaku pasar menahan diri membuka posisi besar menjelang awal November, menjaga volatilitas rupiah di kisaran sempit namun masih dengan bias melemah.

Rupiah di Fase Penyeimbangan, Risiko Pelemahan Masih Terbuka

Dengan DXY bertahan di area 99-100 dan rupiah masih di kisaran Rp16.600-an, pasar tampak berada dalam fase penyeimbangan menjelang rilis data tenaga kerja AS pekan depan. Jika kebuntuan fiskal di Washington berlanjut dan data ekonomi melemah, rupiah berpeluang menguat terbatas. Namun selama komunikasi The Fed tetap hawkish dan dolar mempertahankan momentumnya, mata uang domestik masih cenderung bergerak hati-hati dengan risiko pelemahan lanjutan dalam jangka pendek.

Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS

Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.

Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.

Prakiraan Harga EUR/USD: Diperdagangkan dengan Hati-Hati di Dekat Terendah Dua Minggu di Sekitar 1,1570

Pasangan mata uang EUR/USD diperdagangkan dengan hati-hati di dekat terendah dua minggu di sekitar 1,1570 selama awal sesi perdagangan Eropa pada hari Jumat
Read more Previous

Wakil Presiden ECB, Kocher: Proyeksi menunjukkan kita berada di jalur yang tepat untuk waktu yang berkelanjutan

Anggota Dewan Pengatur Bank Sentral Eropa (ECB) Martin Kocher mengatakan pada hari Jumat, “proyeksi menunjukkan kita berada di jalur yang tepat untuk waktu yang berkelanjutan”
Read more Next