Rupiah Stabil Jelang Libur Imlek, Fokus Pasar Beralih ke Sentimen Global, Tunggu BI-Rate pada Rabu

  • Rupiah ditutup stabil di sekitar 16.823 per dolar AS pada Jumat, menjelang libur panjang pasar domestik terkait cuti bersama dan perayaan Tahun Baru Imlek.
  • Pasar Indonesia tutup Senin-Selasa, membuat fokus investor sementara beralih ke dinamika dolar global, inflasi AS, dan arah imbal hasil obligasi.
  • Perhatian selanjutnya tertuju pada rapat Bank Indonesia Kamis, dengan ekspektasi BI Rate tetap 4,75% serta pemantauan data pertumbuhan kredit domestik.

Rupiah ditutup relatif stabil pada perdagangan Jumat di sekitar 16.823 per dolar AS, menjelang libur panjang pasar keuangan domestik terkait cuti bersama dan perayaan Tahun Baru Imlek. Pasar Indonesia dijadwalkan tutup pada Senin dan Selasa, sehingga aktivitas perdagangan lokal untuk sementara terhenti dan pelaku pasar lebih banyak memantau perkembangan eksternal.

Secara teknis, area 16.780-16.800 masih menjadi penopang terdekat setelah beberapa kali menahan tekanan terhadap rupiah. Di sisi atas, 16.850 menjadi hambatan awal, sementara 16.900 dipandang sebagai batas psikologis penting yang berpotensi memicu volatilitas lebih besar jika ditembus. Sebaliknya, penurunan konsisten di bawah 16.750 dapat membuka ruang koreksi menuju 16.700-16.720.

Dengan pasar domestik libur sementara, arah rupiah selanjutnya diprakirakan lebih dipandu dinamika dolar global, imbal hasil obligasi AS, serta perkembangan sentimen eksternal. Likuiditas yang lebih tipis selama periode libur, umumnya membuat pergerakan relatif terbatas hingga perdagangan Indonesia kembali normal.

Dari sisi global, inflasi tahunan Amerika Serikat yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,4% pada Januari, turun dari 2,7% pada Desember dan sedikit di bawah ekspektasi pasar 2,5%. Secara bulanan, IHK naik 0,2%, lebih rendah dibanding kenaikan 0,3% bulan sebelumnya, sementara inflasi inti tercatat 2,5% secara tahunan, sejalan dengan estimasi analis.

Analis Mata Uang Senior MUFG, Lee Hardman, menilai dolar AS menutup pekan lalu dengan pijakan relatif kuat setelah data Nonfarm Payrolls (NFP) lebih baik dari prakiraan, meski penguatannya terbatas. Ia sebelumnya menilai inflasi AS yang lebih lemah dapat membuka ruang pelonggaran kebijakan Federal Reserve tahun ini. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bank sentral AS kemungkinan tetap berhati-hati karena tekanan harga sektor jasa dan kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga cenderung bergeser ke paruh kedua tahun ini.

Sementara dari domestik, perhatian investor akan tertuju pada rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan Kamis, 19 Februari, dengan konsensus pasar memprakirakan BI Rate tetap di 4,75%, suku bunga fasilitas deposit sekitar 3,75%, dan lending facility di kisaran 5,50%. Data pertumbuhan kredit perbankan, yang terakhir tercatat sekitar 9,69% secara tahunan, juga akan menjadi indikator penting untuk menilai momentum likuiditas dan aktivitas ekonomi domestik, yang berpotensi memengaruhi arah rupiah setelah pasar kembali aktif.

Indikator Ekonomi

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Feb 19, 2026 07.30

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: -

Sebelumnya: 4.75%

Sumber: Bank Indonesia

USD/INR Naik Saat Pembukaan di Tengah Kekhawatiran Arus Keluar Asing yang Diperbarui oleh Penurunan Saham IT India

Rupee India (INR) dibuka lebih rendah terhadap Dolar AS (USD) di awal minggu
Read more Previous

Prakiraan Harga AUD/USD: Kenaikan Lebih Lanjut Tampaknya Mungkin Terjadi Seiring EMA 20-Hari Meningkat

Pasangan mata uang AUD/USD diperdagangkan 0,17% lebih tinggi di dekat 0,7085 pada awal sesi perdagangan Eropa hari Senin
Read more Next