CPO: Minyak Sawit Kembali Tertekan, Stok Malaysia Naik dan Ekspor Melemah

  • Kontrak CPO Juli 2026 turun 1,55% ke 4.446 ringgit per ton pada perdagangan Selasa.
  • Data MPOB menunjukkan stok Malaysia naik, sementara ekspor turun tajam pada April.
  • Harga minyak yang masih tinggi dan prospek biodiesel menjadi penahan tekanan lebih dalam.

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali melemah pada perdagangan Selasa, setelah sempat rebound pada awal pekan. Tekanan terlihat merata di sejumlah kontrak utama, menandakan pasar masih menahan optimisme di tengah sinyal pasokan yang mulai pulih.

Mengacu data TradingView, kontrak CPO Juli 2026 turun 1,55% atau 70 poin ke 4.446 ringgit per ton, setelah bergerak dalam rentang 4.431-4.524 ringgit. Kontrak Mei 2026 melemah 1,78% ke 4.415 ringgit, sementara kontrak Juni 2026 turun 1,43% ke 4.420 ringgit per ton.

Tekanan terutama datang dari pelemahan palm olein di Dalian. Namun, penurunan CPO tidak terlalu dalam karena pasar masih mendapat bantalan dari penguatan minyak kedelai dan harga minyak mentah global.

Stok Malaysia Naik, Ekspor Melemah

Faktor fundamental juga ikut menahan ruang penguatan harga. Data MPOB terbaru menunjukkan stok minyak sawit Malaysia pada April naik 1,71% menjadi 2,30 juta ton. Produksi CPO melonjak 18,37% menjadi 1,63 juta ton, sementara ekspor turun 14,34% menjadi 1,30 juta ton.

Kombinasi produksi yang meningkat dan ekspor yang melemah memberi sinyal bahwa pasokan mulai lebih longgar. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, meski sentimen energi masih memberi dukungan dari sisi permintaan biodiesel.

Di pasar domestik, harga CPO KPBN pada 11 Mei sempat naik Rp103 per kilogram atau sekitar 0,68% ke Rp15.325 per kilogram, mengikuti rebound Bursa Malaysia serta dukungan dari minyak kedelai dan minyak mentah.

Biodiesel dan Minyak Tinggi Jadi Bantalan

Prospek jangka menengah CPO masih ditopang ekspektasi permintaan biodiesel. Reuters sebelumnya mencatat analis Dorab Mistry dari Godrej International memperkirakan harga CPO Malaysia berpotensi naik ke 5.200 ringgit per ton pada pertengahan Juli, didukung permintaan biodiesel saat harga energi tetap tinggi.

Indonesia juga diperkirakan akan menaikkan bauran biodiesel sawit dari B40 ke B50 mulai 1 Juli, sementara Malaysia bersiap menerapkan B15 pada Juni. Kebijakan ini menjaga ekspektasi permintaan sawit, terutama jika harga minyak mentah bertahan di level tinggi.

Sentimen energi tetap kuat karena ketegangan AS–Iran kembali meningkat setelah negosiasi damai mandek dan Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Teheran. Risiko Selat Hormuz juga masih tinggi, membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap gangguan pasokan.

Data Bloomberg menunjukkan WTI kontrak Juni 2026 naik 0,87% ke US$98,92 per barel, sementara Brent kontrak Juli 2026 menguat 0,57% ke US$104,80 per barel. Bagi CPO, harga energi yang tinggi menjadi bantalan penting, meski tekanan dari stok Malaysia dan ekspor yang melemah masih membatasi ruang kenaikan.

Consumer Price Index (MoM) Germany April sesuai Prakiraan 0.6%

Consumer Price Index (MoM) Germany April sesuai Prakiraan 0.6%
Baca lagi Previous

Dolar Australia: Risiko penurunan versus Dolar AS dalam kisaran – UOB

Strategist UOB Quek Ser Leang dan Lee Sue Ann mencatat pasangan mata uang AUD/USD turun gap ke 0,7205 sebelum pulih untuk ditutup di dekat 0,7250, dengan risiko perdagangan harian condong ke arah pengujian ulang 0,7220 sementara 0,7205 diprakirakan akan bertahan. Dalam 1–3 minggu, mereka melihat peluang pasangan mata uang ini bergerak lebih tinggi namun dibatasi di bawah 0,7280.
Baca lagi Next