CPO: Minyak Sawit Melemah Enam Hari Berturut-turut, Stok Malaysia dan Permintaan India Menekan Pasar

  • Kontrak CPO Juni 2026 turun 0,92% ke 4.409 ringgit per ton, sementara kontrak Juli melemah 0,91% ke 4.440 ringgit per ton.
  • Tekanan datang dari stok Malaysia yang naik, produksi yang melonjak, serta impor minyak sawit India yang turun 26%.
  • Meski harga minyak mentah terkoreksi, Brent dan WTI masih bertahan di sekitar US$100 per barel di tengah perang AS-Iran dan risiko Selat Hormuz.

Harga crude palm oil (CPO) melemah pada perdagangan Rabu. Kontrak Juni 2026 turun 0,92% atau 41 ringgit ke 4.409 ringgit per ton, sementara kontrak Juli 2026 terkoreksi 0,91% atau 41 ringgit ke 4.440 ringgit per ton, keduanya telah melemah selama enam hari berturut-turut sejak merosot dari puncak 5 Mei. Meski melemah, kontrak Juli masih bertahan di atas area 4.400 ringgit, menunjukkan tekanan belum sepenuhnya mematahkan level psikologis tersebut.

Pelemahan CPO terjadi ketika harga minyak mentah sempat terkoreksi, sehingga daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel ikut berkurang. Namun, tekanan terhadap CPO tidak sepenuhnya lepas dari konteks energi global yang masih ketat. Bloomberg mencatat harga minyak berjangka masih bertahan tinggi pada pukul 18.03 WIB, dengan Brent di sekitar US$108,12 per barel dan WTI di US$102,22 per barel, seiring belum lancarnya arus melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima aliran minyak dan LNG global.

Pasokan Malaysia Menebal, Sentimen CPO Tertekan

Sebelumnya, data MPOB yang dirilis 11 Mei memperlihatkan pasokan Malaysia meningkat. Stok minyak sawit April naik 1,71% menjadi 2,30 juta ton, sementara produksi CPO melonjak 18,37% menjadi 1,63 juta ton. Di saat yang sama, ekspor turun 14,34% menjadi 1,30 juta ton.

Kombinasi produksi yang naik tajam dan ekspor yang melemah memperkuat sentimen bearish jangka pendek. Pasar membaca data ini sebagai sinyal bahwa pasokan masih cukup melimpah, sementara permintaan belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan produksi.

Permintaan India Melemah

Tekanan juga datang dari India. Reuters melaporkan impor minyak sawit India pada April turun 26% ke 513.403 ton, level terendah sejak Desember 2025, karena permintaan institusional melemah dan rally harga sebelumnya mempersempit diskon sawit terhadap minyak nabati pesaing.

Sebagai salah satu pembeli minyak nabati terbesar dunia, pelemahan permintaan India berpotensi menambah stok di Indonesia dan Malaysia. Kondisi ini membuat ruang pemulihan harga CPO menjadi lebih terbatas, terutama ketika pasar juga menghadapi tekanan dari minyak nabati pesaing.

Harga KPBN Ikut Turun

Di Indonesia, harga fisik CPO KPBN juga melemah. Harga CPO KPBN pada Selasa ditetapkan Rp15.150/kg, turun Rp175/kg atau sekitar 1,14% dari Rp15.325/kg pada Senin. Harga Franco Dumai berada di Rp15.150/kg, sementara Loco Sei Tapung tercatat Rp14.911/kg dan FOB Talang Duku di Rp14.950/kg.

Energi Global Masih Jadi Penahan Sentimen

Meski koreksi crude oil menekan CPO secara harian, pasar energi global masih memberi latar yang sensitif. International Energy Agency (IEA) memprakirakan pasokan minyak global 2026 turun 3,9 juta barel per hari, lebih dalam dari proyeksi sebelumnya 1,5 juta bph, akibat perang Iran dan gangguan di kawasan Teluk. IEA juga melihat pasokan global berada 1,78 juta bph di bawah permintaan tahun ini, dengan persediaan minyak dunia terkuras 246 juta barel pada Maret-April.

Dengan demikian, pasar CPO berada di antara dua tekanan. Di satu sisi, kenaikan stok Malaysia dan pelemahan permintaan India menahan harga. Di sisi lain, minyak mentah yang masih bertahan di atas atau sekitar US$100 per barel dapat membatasi penurunan lebih dalam, terutama jika risiko pasokan energi dari perang AS-Iran kembali meningkat.

Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Bertahan di Sekitar $4.700 Meskipun Imbal Hasil AS Tinggi

Emas (XAU/USD) turun selama dua hari berturut-turut pada hari Rabu, tetapi tetap stabil, di tengah kisaran perdagangan mingguan, diperdagangkan beberapa pip di bawah $4.700 pada saat berita ini ditulis
Đọc thêm Previous

Rupee India: Kenaikan tarif impor pada Emas mendukung INR – BNY

Bob Savage dari BNY menyoroti bahwa India telah membalikkan pemotongan tarif sebelumnya dengan menaikkan tarif impor Emas dan Perak menjadi 15% mulai Mei 2026. Langkah ini bertujuan untuk membatasi impor emas batangan, mempersempit defisit perdagangan, dan mendukung Rupee di tengah tekanan eksternal
Đọc thêm Next