Rupiah Kian Mendekati ke Rp17.700 setelah Libur Panjang, Minyak Tinggi Jadi Beban Utama
- Rupiah melemah 1,34% ke Rp17.676 per Dolar AS pada Senin.
- Harga minyak di atas US$100 per barel memperbesar tekanan impor energi dan kebutuhan valas.
- Pasar menunggu keputusan BI-Rate Rabu, dengan ING memprakirakan peluang kenaikan 25 bp.
Rupiah langsung tertekan tajam setelah pasar domestik kembali aktif usai libur panjang. Mata uang Garuda melemah 1,34% ke Rp17.676 per Dolar AS pada Senin, dengan pasangan mata uang USD/IDR sempat menyentuh Rp17.680 sebagai titik terlemah harian bagi Rupiah sekaligus area terlemah historis. Sementara itu, posisi terbaik Rupiah hari ini tercatat di sekitar Rp17.456 per Dolar AS.
Tekanan tersebut melampaui kisaran yang diprakirakan sejumlah analis domestik. Ibrahim Assuaibi sebelumnya memproyeksikan Rupiah bergerak di rentang Rp17.590-Rp17.660 per Dolar AS, sementara Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, memprakirakan pergerakan di kisaran Rp17.550-Rp17.650 per Dolar AS.
Minyak Tinggi Perberat Tekanan Rupiah
Salah satu beban terbesar bagi Rupiah datang dari harga minyak yang terus menanjak. Brent kini berada di US$111,30 per barel, sementara WTI menembus US$107,73 per barel. Kenaikan ini memperbesar kekhawatiran terhadap beban impor energi, risiko inflasi impor, serta meningkatnya kebutuhan Dolar AS di pasar domestik.
OCBC Group Research menempatkan Rupiah dalam kelompok mata uang Asia yang paling rentan terhadap harga minyak, bersama Rupee India dan Peso Filipina. Kombinasi imbal hasil US Treasury yang tinggi, Brent di atas US$100 per barel, dan sentimen risiko yang rapuh dinilai menjadi campuran yang sulit bagi mata uang Asia, terutama negara yang sensitif terhadap impor energi.
Konflik AS-Iran dan Hormuz Jadi Risiko Utama
Gangguan di Selat Hormuz masih menjadi sumber tekanan utama karena menghambat arus energi global, mengerek biaya logistik, dan menjaga harga minyak bertahan di atas US$100 per barel. Dampak perang dan disrupsi jalur pasok ini juga mulai terasa pada perusahaan global, terutama di sektor maskapai, barang konsumsi, dan manufaktur.
Bagi Rupiah, situasi tersebut menambah tekanan di tengah memburuknya konflik AS-Iran. Serangan drone ke fasilitas nuklir UEA serta buntunya diplomasi terkait pembukaan kembali jalur Hormuz membuat harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini memaksa pasar kembali menakar risiko inflasi impor, meningkatnya kebutuhan valas, serta potensi pelebaran beban fiskal Indonesia sebagai net importir minyak.
Pemerintah Redam Kekhawatiran, Pasar Belum Sepenuhnya Yakin
Dari dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto menyatakan ekonomi Indonesia tetap kuat meski Rupiah berada dalam tekanan. Ia menekankan fundamental domestik masih kuat, dengan pasokan pangan dan energi yang dinilai aman, sekaligus berupaya meredam kekhawatiran publik terhadap pelemahan kurs.
Pemerintah juga menyoroti sejumlah bantalan ekonomi, mulai dari pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%, inflasi April yang terkendali di 2,42%, hingga neraca perdagangan yang masih surplus. Namun, respons pasar menunjukkan kekhawatiran belum sepenuhnya mereda. Lonjakan harga minyak, kebutuhan valas musiman, risiko beban subsidi, serta tekanan arus modal tetap membatasi ruang pemulihan Rupiah, meski BI telah menyiapkan intervensi dan pembatasan pembelian Dolar AS untuk menjaga stabilitas kurs.
Fokus Beralih ke BI-Rate
Perhatian pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu, 20 Mei. Ekonom ING Deepali Bhargava, Lynn Song, dan Min Joo Kang memprakirakan BI akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan tersebut.
Proyeksi itu didorong oleh pelemahan Rupiah lebih dari 1,5%, intervensi valas BI yang masih berlangsung, serta bergesernya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed akibat data AS yang kuat. Dengan stabilitas kurs tetap menjadi prioritas, BI dinilai berpeluang mengambil sikap lebih ketat untuk menahan tekanan lanjutan terhadap Rupiah.
Indikator Ekonomi
Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia
Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Mei 20, 2026 07.30
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: -
Sebelumnya: 4.75%
Sumber: Bank Indonesia